Bank Kasikorn Indonesia Rencanakan Rights Issue untuk Kredit di 2026

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:20:31 WIB
PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS).

JAKARTA - PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS) bersiap mengeksekusi aksi penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) dengan menerbitkan maksimal 2,87 miliar saham baru guna memperkokoh permodalan sekaligus menopang ekspansi penyaluran kredit perseroan.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (11/8/2026), jumlah saham baru yang bakal dilepas BMAS—yang sebelumnya populer dengan nama Bank Maspion—maksimal menyentuh 15,88 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Tiap lembar saham anyar tersebut mengapit nilai nominal Rp100 per saham. Adapun kepastian harga pelaksanaan rights issue serta jumlah akhir saham yang diterbitkan belum ditetapkan dan bakal dijabarkan secara rinci dalam prospektus perseroan.

Pihak perseroan menjelaskan bahwa saham baru yang diterbitkan lewat skema PMHMETD IV bakal memiliki hak yang setara dengan saham perseroan yang telah beredar sebelumnya, termasuk hak atas pembagian dividen. Saham tersebut kelak dicatatkan di BEI sesuai regulasi yang berlaku.

Bank Kasikorn Indonesia berencana mengalokasikan seluruh dana bersih hasil rights issue pasca-dikurangi biaya emisi untuk modal kerja. Dana tersebut secara khusus disalurkan guna mendongkrak kapasitas penyaluran kredit perseroan.

Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar perseroan memperkuat struktur permodalan. Dalam rilis keterbukaan informasi, manajemen membeberkan aksi penambahan modal diharapkan mampu membuka ruang bagi para investor untuk berpartisipasi dalam penguatan modal perseroan.

BMAS mengutarakan bahwa penambahan modal lewat PMHMETD IV dapat memberikan nilai tambah bagi performa kinerja perusahaan. Penguatan modal tersebut langsung diarahkan guna menyokong kebutuhan bisnis perbankan, utamanya dari sisi ekspansi kredit.

Agenda strategis ini bakal dimintakan persetujuan para pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026.

Adapun eksekusi HMETD dilaksanakan mengacu pada regulasi POJK 32/2015, di mana pelaksanaan PMHMETD dapat digulirkan dalam rentang waktu maksimal 12 bulan sejak tanggal persetujuan RUPSLB.

Ditinjau dari rekam kinerjanya, BMAS sanggup membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp31,8 miliar sepanjang 2025. Secara performa bisnis, laju penyaluran kredit BMAS melonjak hampir dua kali lipat dalam kurun tiga tahun terakhir.

Portofolio kredit mekar dari Rp8,78 triliun pada 2022 menjadi Rp17,34 triliun pada 2025. Pada kurun yang sama, total aset terangkat naik dari Rp14,96 triliun menjadi Rp22,4 triliun, sementara rasio kecukupan modal (CAR) melesat dari 31,55 persen ke level 45,76 persen.

Peningkatan mutu juga nampak pada efisiensi serta kualitas aset. Rasio BOPO membaik dari 120,13 persen menjadi 97,15 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (gross NPL) melandai dari 3,26 persen pada 2024 menjadi 2,26 persen pada 2025.

Dari lini pendanaan, porsi rasio dana murah (CASA) meningkat menuju 27,16 persen dari angka sebelumnya 22,58 persen pada 2024. Pihak perseroan menyebut perbaikan ini mencerminkan pergeseran struktur pendanaan menuju arah yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Terkini