Bukan Cinta Ini Limerence yang Membuat Seseorang Menjadi Terobsesi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:02:02 WIB
Ilustrasi Fenomena Limerence.

JAKARTA — Ada kalanya seseorang begitu tertarik kepada orang lain sampai sukar berhenti memikirkannya. Tiap lirik lagu seakan mengingatkan pada sosok tersebut, pesan singkat selalu dinanti, bahkan interaksi sepele dapat ditafsirkan sebagai sinyal balasan perasaan.

Sekilas, situasi ini mungkin menyerupai fenomena jatuh cinta. Namun, apabila bayangan tentang seseorang mulai menguasai ritme kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut sejatinya melampaui rasa suka biasa.

Keadaan ini dikenal dengan istilah limerence.

Mengutip rujukan CNA, limerence merupakan kondisi psikologis yang ditandai oleh kerinduan mendalam, hadirnya pikiran obsesif yang berulang, tindakan kompulsif, serta hasrat kuat agar perasaannya mendapat balasan. Istilah limerence pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Dorothy Tennov pada era 1970-an.

Psikolog Orly Miller menerangkan limerence sebagai fase saat daya tarik kepada seseorang menjadi amat intens hingga mulai mengacaukan rutinitas harian. Berbeda dari crush atau rasa suka biasa yang relatif singkat, limerence sanggup bertahan berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan lebih lama.

Individu yang mengalaminya dapat terus memikirkan sosok idaman, membayangkan relasi bersama, mencari alasan untuk menghubungi, hingga menerjemahkan interaksi kecil sebagai petunjuk bahwa cintanya berbalas.

Sebagai gambaran, sebuah pesan singkat, tatapan mata, komentar di media sosial, atau sekadar sapaan dapat dipikirkan secara berulang. Dari interaksi sederhana itu, seseorang mampu membangun narasi yang jauh lebih besar dalam benaknya seraya mempertanyakan apakah sikap tersebut penanda ketertarikan atau penolakan.

Inilah pembeda utama antara limerence dan jatuh cinta.

Pada ikatan cinta, perasaan bertumbuh berdasarkan relasi nyata dan proses saling mengenal. Sementara dalam limerence, porsi fantasi, harapan, serta ketidakpastian memegang peranan yang sangat dominan.

Psikolog Albert Wakin menggambarkan situasi tersebut sebagai momen ketika sosok yang disukai bertransformasi menjadi simbol sumber kebahagiaan serta pemenuhan diri.

Sensasi yang muncul dalam limerence memang tergolong sangat kuat. Akan tetapi, intensitas tinggi tersebut tidak otomatis menandakan seseorang sedang menjalani hubungan cinta yang sehat.

Limerence cenderung berfokus pada bagaimana seseorang merasakan serta membayangkan hubungan tersebut, bukan pada realita ikatan yang sedang berjalan. Oleh sebab itu, seseorang dapat merasa sangat terikat pada figur yang sebenarnya belum dikenal dekat.

Kondisi limerence juga tak selalu bertumpu pada relasi romantis atau seksual. Seseorang bisa saja mengalaminya terhadap sahabat atau pihak lain yang memiliki keterikatan emosional kuat dengannya.

Contohnya adalah tatkala seseorang merasa sangat terpukul hanya karena seorang kawan tidak membalas pesan atau surat elektronik. Penolakan atau ketidakpastian kecil dapat memicu kesedihan intens dan membuat pikirannya terus berputar pada sosok tersebut.

Salah satu karakteristik limerence adalah hadirnya perpaduan antara harapan dan keraguan. Seseorang berharap perasaannya berbalas, tetapi pada saat bersamaan selalu diselimuti ketidakyakinan. Dinamika 'mungkin iya, mungkin tidak' inilah yang justru membuat seseorang kian terikat.

Psikolog Abby Medcalf menyebut ketidakpastian sebagai bahan bakar yang menjaga siklus tersebut terus berputar. Saat seseorang menangkap sinyal bahwa perasaannya mungkin berbalas, otak meresponsnya sebagai bentuk penghargaan.

Apabila penghargaan itu datang secara tidak terduga atau tidak konsisten, dorongan untuk terus memburunya akan semakin kuat. Walhasil, pesan yang hadir sesekali, perhatian mendadak, atau interaksi tak menentu membuat seseorang kian sulit melepaskan diri.

Kajian riset mengenai limerence sejauh ini masih terbatas. Namun, sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa kondisi ini lebih rentan menghampiri individu dengan pola anxious attachment atau keterikatan cemas.

Individu dengan pola keterikatan ini umumnya mengindap kecemasan tinggi akan risiko ditinggalkan serta mendesak kepastian dalam hubungan. Kendati demikian, limerence tidak berarti seseorang secara otomatis mengidap gangguan kecemasan atau Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

Fenomena ini juga tidak selalu mengindikasikan gangguan mental tertentu. Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika rentetan pikiran dan perilaku tersebut mulai mengganggu kapasitas seseorang dalam menjalankan rutinitas harian.

Sebut saja ketika seseorang sukar berkonsentrasi bekerja, mengalami gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, hingga menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk memikirkan sosok yang disukainya.

Terkini