Penyebab Mata Juling Bisa Menyerang Orang Dewasa Secara Mendadak 2026

Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:36:31 WIB
Ilustrasi Mata Juling.

JAKARTA - Kondisi strabismus atau mata juling kerap dipersepsikan publik sebagai kelainan bawaan yang hanya dialami oleh bayi dan anak-anak sejak lahir. Kenyataannya, gangguan pada kedudukan bola mata ini juga dapat menyerang orang dewasa secara mendadak di tengah fase usia produktif.

Kemunculan kelainan penglihatan yang tiba-tiba pada usia dewasa umumnya tidak berdiri sendiri. Kondisi ini biasanya menjadi komplikasi lanjutan dari gangguan kesehatan lain yang bersembunyi di dalam tubuh penderita.

"Apakah orang tua bisa tiba-tiba juling? Bisa. Misalkan, contoh, pada pasien hipertensi, terjadi sesuatu pada sarafnya sehingga jadi juling," kata Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, Sp.M (K).

Gangguan penglihatan yang muncul belakangan atau dikenal dengan istilah juling didapat memiliki rekam jejak klinis yang sangat kontras dengan mata juling bawaan. Strabismus jenis ini terjadi pada individu yang awalnya memiliki riwayat penglihatan normal.

Penyakit-penyakit sistemik yang diderita pasien dewasa diam-diam merusak jaringan saraf di otak yang bertugas mengatur koordinasi pergerakan otot mata. Tergantung dari bagian otak mana yang mengalami komplikasi, salah satu atau kedua belah bola mata pasien seketika bisa berubah arah.

"Karena penyakit-penyakit penyerta lain kan bisa mempengaruhi. Ada diabetes, ada tiroid, kemudian hipertensi. Itu bisa mempengaruhi sedemikian rupa kondisi otak manusia, sehingga kedudukan bola mata jadi terganggu," terang dr. Gusti.

Kerusakan koordinasi otot mata ini mengubah alur masuknya informasi visual ke dalam otak. Hal tersebut secara langsung mengganggu kejernihan fokus pandangan pasien saat melihat objek di sekitarnya.

"Pada pasien diabetes, yang tadinya bisa melihat normal, tiba-tiba ngelihatnya double (penglihatan ganda). Matanya masuk ke dalam. Nah itu bisa terjadi pada orang yang sudah berusia," tutur dr. Gusti.

Perubahan mendadak pada posisi bola mata ini tidak cuma merusak kenyamanan fisik, tetapi juga memberikan tekanan psikologis yang teramat berat bagi pasien dewasa. Kelainan strabismus tercatat membawa risiko gangguan mental hingga 10 persen lebih tinggi.

Secara fungsional, hilangnya kesejajaran bola mata secara instan langsung membuat penglihatan menjadi ganda atau double vision. Penderita merasa disorientasi dan kesulitan menjalankan rutinitas harian mereka.

"Perasaan yang double vision itu paling tidak enak, sehingga pasien itu perlu menutup satu mata," kata dr. Gusti.

Selain masalah fungsional, kelainan kedudukan mata ini berdampak langsung pada peluang karier dan interaksi sosial pasien di dunia profesional. Stigma masyarakat membuat penyintas strabismus kesulitan saat bersaing dalam dunia kerja.

"Orang dewasa mau melamar kerja. Kalau ada yang sama-sama bagus nilainya, tapi yang satu juling dan yang satu enggak, pasti suatu perusahaan akan pilih yang lebih sehat," ungkap Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng, dr. Referano Agustiawan, Sp.M (K).

Demi memulihkan kualitas hidup dan produktivitas penderita, intervensi bedah pada otot mata menjadi solusi penanganan yang direkomendasikan. Tindakan operasi strabismus difokuskan pada tiga indikasi utama.

"Jadi indikasi secara garis besar, ada namanya fungsional, sensoris, dan kosmetik atau psikososial," papar dr. Gusti.

Tindakan pembedahan menjadi pilihan yang diutamakan apabila keluhan penglihatan ganda maupun disorientasi visual tidak dapat lagi ditangani secara memadai melalui perawatan tanpa operasi.

Pelurusannya menargetkan perbaikan estetika wajah sekaligus mengembalikan peluang pasien dalam mengembangkan karier mereka. Khusus bagi pasien dewasa yang menderita juling mendadak akibat komplikasi gula darah atau kelainan sistemik lainnya, tim dokter akan memantau stabilitas penyimpangan mata terlebih dahulu sebelum memutuskan tindakan bedah.

Terkini