Pengembangan SAF Jadi Peluang Bisnis Baru Indonesia dan Jepang

Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:18:32 WIB
Ketua Umum Indonesia Japan Business Network (IJBNet) Dr. Suyoto Rais [FOTO: NET].

JAKARTA - Ketua Umum Indonesia Japan Business Network (IJBNet), Dr. Suyoto Rais, mengungkapkan bahwa inisiatif pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) mempunyai potensi besar untuk menjelma sebagai salah satu sektor ladang bisnis baru dalam rangka memperkokoh hubungan kemitraan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Jepang, sejalan dengan tren eskalasi kebutuhan industri penerbangan global terhadap ketersediaan pasokan bahan bakar ramah lingkungan yang berkelanjutan.

“Indonesia memiliki sumber daya, pasar dan talenta yang besar. Jepang memiliki teknologi, pengalaman industri dan jaringan bisnis yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana kedua kekuatan tersebut dipertemukan dalam bentuk kerja sama yang nyata dan berkelanjutan,” kata Suyoto dalam keterangan yang diterima, Rabu (12/8/2026).

Pihak IJBNet memandang bahwa penggarapan komoditas bahan baku SAF ini merupakan salah satu isu strategis yang mendesak di tengah tuntutan global untuk mewujudkan sektor industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Peluang emas tersebut sukses menjadi katalisator penting yang mempertemukan unsur pemerintah, kalangan pelaku dunia usaha, institusi lembaga penelitian, hingga para mitra strategis asal Jepang guna merumuskan kerja sama lintas sektor industri sekaligus membedah potensi ekspansi bahan baku dan jaringan rantai pasok SAF.

Berdasarkan pandangan Suyoto, jalinan relasi bilateral antara Indonesia dan Jepang menyimpan cadangan potensi yang luar biasa besar. Kedua belah negara mempunyai keunggulan kekuatan dan kebutuhan spesifik yang terbukti saling melengkapi secara harmonis, mulai dari sektor industrial, penguasaan teknologi, aliran penanaman modal investasi, sektor energi dan lingkungan hidup, hingga kualitas sumber daya manusia.

Dalam forum diskusi IJBNet tersebut, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menyampaikan bahwa pergeseran peta lanskap industri global—termasuk di dalamnya desakan agenda dekarbonisasi serta proses transisi menuju pemanfaatan energi bersih—telah memicu lahirnya kebutuhan mendesak akan bentuk kolaborasi erat antarnegara.

“Kemitraan Indonesia dan Jepang memiliki sejarah panjang dan terus berkembang. Ke depan, kerja sama tersebut harus semakin diarahkan pada peningkatan investasi, penguatan teknologi, peningkatan daya saing industri dan pengembangan sumber daya manusia,” ujar Tri.

Tri menambahkan bahwa dalam kerangka spesifik pengembangan SAF, ruang lingkup kolaborasi antara Indonesia dan Jepang dapat merambah ke berbagai lini aspek secara komprehensif, mulai dari tahap eksplorasi bahan baku, penguasaan teknologi proses pengolahan, hingga pembangunan ekosistem rantai pasok yang andal guna menyokong produksi bahan bakar aviasi berkelanjutan.

Inisiasi pengembangan SAF ini juga dinilai mampu membentangkan peluang luas bagi Indonesia untuk menumbuhkan sektor industri baru yang memiliki korelasi erat dengan bidang energi, sektor pertanian, penguasaan teknologi mutakhir, hingga dunia penerbangan.

“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian dan mitra internasional menjadi semakin penting. Indonesia membutuhkan mitra strategis yang dapat bersama-sama membangun industri yang kuat, inovatif dan berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, dari sudut pandang delegasi Jepang, Kuasa Usaha ad interim Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Myochin Mitsuru, menegaskan bahwa hubungan kemitraan kedua negara telah bertransformasi jauh melampaui batas-batas kerja sama perdagangan konvensional pada umumnya.

“Hubungan Indonesia dan Jepang memiliki fondasi yang sangat kuat dan telah berkembang dalam berbagai bidang. Kerja sama ekonomi, industri, teknologi, investasi dan sumber daya manusia membuka banyak peluang baru bagi kedua negara,” ujar Myochin.

Di samping fokus pada komoditas SAF, sejumlah korporasi bisnis dan organisasi asal Jepang yang turut berpartisipasi dalam perhelatan forum IJBNet tersebut juga memperkenalkan pelbagai peluang kerja sama strategis di sektor energi hijau (green power), energi terbarukan (renewable energy), teknologi lingkungan (environmental technology), teknologi keantariksaan (space technology), pengembangan bisnis, hingga peningkatan mutu sumber daya manusia.

Fakta tersebut merefleksikan sinyal bahwa agenda dekarbonisasi dunia kini mulai merintis terbukanya ruang lingkup kolaborasi ekonomi yang jauh lebih luas antara Indonesia dan Jepang. Gelombang transisi menuju ekosistem industri rendah karbon terbukti tidak sekadar berorientasi pada pemenuhan agenda lingkungan hidup semata, melainkan turut menjanjikan lahirnya potensi investasi segar serta pembentukan nilai rantai pasok yang baru.

Pihak IJBNet menilai bahwa arah orientasi kerja sama Indonesia-Jepang di masa mendatang harus difokuskan secara konsisten pada pembentukan ekosistem industri yang solid, yakni yang mampu merajut sinergi terpadu antara pihak pemerintah, para pelaku dunia usaha, institusi riset penelitian, serta kalangan tenaga kerja terampil.

Melalui penerapan pendekatan strategis tersebut, akselerasi pengembangan SAF beserta sektor industri hijau lainnya diyakini tidak akan berhenti sebatas pada tataran kerja sama alih teknologi belaka, melainkan mampu berkembang secara progresif menjadi instrumen investasi dan aktivitas komersial riil yang mendatangkan nilai tambah optimal bagi kemajuan sektor industri nasional Indonesia.

Terkini