Gen Z dan Gen Alpha Ungkap Makna Kemerdekaan pada Indonesia 2026

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:38:32 WIB
Ilustrasi Gen Z.

JAKARTA - Delapan puluh satu tahun sudah Indonesia merdeka. Selama perjalanan tersebut, kata merdeka ikut tumbuh bersama generasi yang berbeda-beda. Bagi mereka yang hidup pada era penjajahan, merdeka menandakan terbebas dari kekuasaan bangsa asing.

Jalan menuju kemerdekaan pun tidak terlepas dari peran anak muda. Gagasan kebangsaan tumbuh di kalangan pelajar serta kaum terdidik, salah satunya melalui lahirnya Boedi Oetomo dari lingkungan pelajar STOVIA pada 1908.

Bertahun-tahun sesudahnya, para pemuda Menteng 31 ikut menggembleng diri dan terlibat dalam pergerakan. Menjelang Proklamasi, kelompok pemuda turut mengambil peran dengan membawa Soekarno serta Mohammad Hatta menuju Rengasdengklok.

Anak muda menjadi bagian dari kisah kemerdekaan Indonesia. Lantas, 81 tahun setelah Proklamasi dibacakan, apakah makna merdeka masih sama bagi anak muda masa kini?

CNNIndonesia.com mengajukan pertanyaan tersebut kepada sejumlah gen Z dan gen Alpha. Jawabannya tidak selalu berikatan dengan penjajahan dalam pengertian yang selama ini dikenal dari buku sejarah.

Bebas Menentukan Pilihan

Bagi sebagian Gen Z, merdeka ternyata diawali dari hal yang paling dekat dengan kehidupan mereka, yakni memiliki kendali atas hidup sendiri.

Henry (20), mahasiswa dari IPB University, memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan menjalani hidup tanpa tekanan dari pihak lain. Bukan cuma soal bebas bersuara, melainkan juga menentukan dengan siapa ingin berteman hingga pilihan-pilihan personal lainnya.

"Ya, bebas. Merdeka itu bebas tanpa tekanan dari siapa pun. Mau berpendapat bebas, bisa menentukan apa yang kami mau tanpa ada paksaan dari orang lain," kata Henry, Kamis (13/8).

Kebebasan tersebut, bagi sebagian Gen Z, juga tak dapat dipisahkan dari rasa aman. Bima, seorang pekerja media berusia 25 tahun, menyebut bahwa terbebas dari intimidasi merupakan bagian dari kemerdekaan.

"Menurut gue, merdeka itu ya ketika kami bisa bebas dari intimidasi. Jadi, kami bisa ngomong atau melakukan sesuatu tanpa merasa takut karena ada orang yang mengancam atau menekan," ujarnya.

Persoalan tersebut kemudian bermuara pada pertanyaan lain, apakah mereka benar-benar merasa bebas di negaranya sendiri?

Zeta (23), karyawan swasta asal Sukabumi, merasa kemerdekaan hari ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi yang masih dialami masyarakat.

"Dulu sih kemerdekaan kaitannya pasti bebas dari para penjajah. Tapi sekarang kemerdekaannya sudah hilang makna karena kami dijajah bangsa sendiri. Enggak merasa bebas di negara sendiri," jelas Zeta.

Kharina (24), gen Z asal Bekasi mempunyai keresahan serupa.

"Bahkan kami sekarang dijajah sama our people, kind of neo-colonialism. Kayak zaman dulu, kan, disebut kolonialisme karena sama orang bule, sekarang bahkan kolonial itu sendiri orang-orang kami," ujar Kharina.

Kharina menggunakan istilah neo-kolonialisme untuk menggambarkan tekanan serta ketimpangan yang justru muncul dari dalam negeri sendiri.

Merdeka di Tengah Timeline yang Bikin Emosi

Terdapat pula cara pandang yang lebih dekat dengan keseharian Gen Z. Bukan mengenai perang atau perjuangan fisik, melainkan apa yang mereka temui setiap kali membuka ponsel.

Stefani Gloria (22), lulusan baru Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sempat melempar jawaban yang terdengar seperti keluhan khas pengguna media sosial.

"[Merdeka itu] bisa scroll media sosial tanpa jadi bad mood liat berita-berita negara," celetuk Stefani.

Candaan tersebut kemudian mengarah pada harapan Stefani perihal akses pendidikan serta pengetahuan yang tidak dibatasi kondisi ekonomi.

"Ketika akses terhadap buku dan pendidikan dapat dirasakan secara bebas di Indonesia tanpa lihat kemampuan finansial, salah satunya dengan pemberantasan korupsi dan penghargaan terhadap sistem meritokrasi," tambahnya.

Merdeka Juga Bisa Berarti Enggak Takut Lihat Saldo

Tidak semua jawaban harus terdengar serius. Caca (26), seorang ibu rumah tangga yang juga generasi Z, mempunyai definisi yang jauh lebih dekat dengan urusan sehari-hari.

"Bisa belanja sepuasnya tanpa lihat saldo. Kayak, ya udah belanja aja. Enggak perlu mikir 'in this economy'," kata Caca sambil tertawa.

Di tengah biaya hidup serta berbagai kebutuhan harian, kebebasan finansial memang dapat menjadi bentuk kemerdekaan tersendiri. Bisa memenuhi kebutuhan tanpa cemas, menikmati hasil kerja sendiri, dan punya kendali atas uang yang dimiliki.

Bila dulu bentuk penjajahan yang mesti dilawan adalah kekuasaan bangsa asing, generasi sekarang memiliki 'penjajah' dengan bentuk yang jauh lebih familiar: tagihan, tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, dan saldo rekening.

Lalu, Bagaimana dengan Gen Alpha?

Saat pertanyaan serupa disodorkan kepada Gen Alpha, jawabannya memang tidak muluk-muluk. Bagi Nathan (11), kemerdekaan berikatan dengan satu hal yang mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa: kesempatan meraih cita-cita.

"Menurut aku, merdeka itu bisa meraih cita-cita. Jadi, aku bisa punya cita-cita dan berusaha untuk mencapai itu," kata Nathan.

Terdapat pula anak yang menghubungkan kemerdekaan dengan hak memperoleh pendidikan. Sebagian lainnya langsung teringat pada upacara bendera serta lomba-lomba Agustusan di sekolah.

Hana (6), memaknai kemerdekaan lewat dua hal yang dekat dengan kesehariannya, yakni mengikuti upacara dan bebas bermain bersama teman.

"Upacara sama bisa main sama teman-teman, bebas main kapanpun," ujar Hana. Bahkan, bagi anak-anak lain, jawabannya bisa sesederhana makan burger sepuasnya.

Lebih dari delapan dekade setelah Proklamasi, kata merdeka ternyata mempunyai banyak wajah. Mungkin, begitulah kemerdekaan terus tumbuh, diwariskan dari satu generasi, lalu diberi makna baru oleh generasi berikutnya.

Terkini