JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,2 pada Sabtu pukul 09.31 WITA di kawasan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dipastikan tidak memicu gelombang tsunami.
Pemutakhiran data BMKG mengindikasikan bahwa kekuatan gempa terukur M5,1 pada kedalaman 16 km. Pemodelan tsunami mengonfirmasi kalau gempa bumi ini,” ujar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto lewat pernyataan tertulis di Kupang, Sabtu.
Ia menerangkan bahwa pusat gempa bumi berada di titik koordinat 8,07° LS dan 120,66° BT, atau persis di perairan berjarak 64 km arah timur laut Ruteng, Manggarai, NTT.
Menilik lokasi pusat serta kedalaman hiposenternya, peristiwa ini dikategorikan sebagai gempa bumi dangkal akibat dinamika pergerakan Flores Back-Arc Thrust.
Pemeriksaan mekanisme sumber memperlihatkan pergeseran sesar naik (thrust fault) pada peristiwa tersebut.
Berdasarkan gambaran peta tingkat guncangan (shakemap), getaran gempa dirasakan pada skala intensitas IV MMI di kawasan Lamba Leda, Sambi Rampas, hingga Reok.
Peristiwa kali ini tergolong sebagai rentetan gempa susulan atas gempa bumi utama bermagnitudo 7,7 yang sempat melanda Flores pada 15 Agustus 2026 pukul 06.58 WITA.
Wijayanto menuturkan bahwa pemantauan BMKG hingga 22 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA mencatat sebanyak 5.089 kali gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai M6,2.
Pihak BMKG berkomitmen untuk terus memantau pergerakan gempa susulan dan selalu menyalurkan data terbaru bagi pemangku kepentingan maupun warga.
Masyarakat dipesan agar senantiasa tenang, tidak memercayai rumor yang belum terbukti kebenarannya, serta memutari struktur bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan gempa.