UKP Pariwisata dan Kemendes Dorong Pemulihan Desa Adat Sade Lombok

Senin, 24 Agustus 2026 | 00:11:32 WIB
Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata, Zita Anjani didampingi Ketua DPD PAN Kota Mataram, Dwi Jaya Saputra saat turun langsung ke Desa Adat Sade pascakebakaran, Minggu (23/8) sore.

JAKARTA - Utusan Khusus Presiden (UKP) berdampingan dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mendorong pelaksanaan restorasi Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pascainsiden kebakaran pada Sabtu (22/8) malam.

Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata (UKP Pariwisata) Zita Anjani menyampaikan bahwa proses pemulihan Sade bakal dipicu lewat sinergi antara pemerintah pusat, pemda, hingga elemen warga. UKP Pariwisata dan Kemendes PDT akan mengawal langsung kebutuhan pembangunan ulang serta penataan kembali kawasan Sade.

"Apa yang kami lihat dan dengar langsung dari masyarakat akan kami sampaikan kepada pemerintah pusat. Melalui Kemendes-PDT, kami akan mendorong program desa wisata dan desa budaya untuk mendukung pembangunan kembali dan restorasi Desa Adat Sade agar dapat kembali berkembang," ujar Zita melalui keterangannya diterima di Mataram, Senin.

Zita Anjani memantau langsung titik kebakaran Desa Adat Sade pada Minggu (24/8). Zita didampingi Bupati Lombok Tengah, Bupati Bima, Kepala Desa Sade, Ketua Pokdarwis Desa Adat Sade, Dirjen Pembangunan Desa dan Perdesaan (PDP), Kepala Biro Perencanaan Kemendes PDT, serta perwakilan Bulog NTB.

Zita mengitari kawasan terdampak sembari menyerap aspirasi warga secara langsung guna mendengarkan kebutuhan konkret terkait langkah pemulihan dan masa depan Desa Adat Sade.

Lewat kemitraan dengan Bulog NTB, turut didistribusikan bantuan kebutuhan pokok meliputi beras, minyak goreng, sarung, serta selimut untuk warga terdampak musibah kebakaran.

Zita menegaskan bahwa kolaborasi ini tidak sebatas difokuskan pada rekonstruksi fisik lokasi yang terbakar, melainkan juga mengembalikan fungsi Desa Adat Sade sebagai ruang tumbuh masyarakat sekaligus sentra budaya dan pariwisata.

"Restorasi akan memperhatikan karakter desa adat, arsitektur tradisional, nilai budaya Sasak, aspek keselamatan, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat," ujar Zita.

Zita menggarisbawahi bahwasanya proses restorasi membutuhkan kurun waktu khusus dan tidak dapat dirampungkan secara terburu-buru. Menurutnya, pembangunan kembali mesti berlandaskan perencanaan matang agar Sade dapat bangkit tanpa kehilangan identitas serta marwah budayanya.

"Restorasi Sade membutuhkan waktu dan harus dilakukan dengan perencanaan yang baik. Kami ingin membangun kembali Sade sebagai desa adat yang tetap hidup, budayanya terjaga, masyarakatnya berdaya, dan pariwisatanya dapat berkembang secara berkelanjutan," katanya.

Menurutnya, keterlibatan aktif warga setempat memegang peranan krusial dalam tahapan ini. Masyarakat Sade merupakan garda utama penjaga adat dan budaya yang menjadi fondasi penataan kawasan sekaligus pilar keberlanjutan pariwisata desa.

Kedepan, langkah penataan kembali diharapkan menjadi titik balik dalam mengokohkan Sade sebagai destinasi wisata berkelanjutan, yang tetap memberi nilai tambah ekonomi warga dan melestarikan warisan budaya Sasak bagi generasi penerus.

Upaya pemulihan ini juga menjadi bagian dari gerakan Unlock Indonesia untuk mengangkat kembali potensi, narasi, dan kekayaan budaya dari berbagai belahan Nusantara.

Selain itu, Zita berharap masyarakat Sade dianugerahi kekuatan dan ketabahan dalam melewati masa sulit ini serta bisa segera beraktivitas normal kembali.

"Semoga masyarakat Sade diberikan kekuatan dan ketabahan. Kami ingin Sade kembali menjadi rumah bagi masyarakatnya, budaya Sasak tetap hidup, dan Sade kembali menjadi destinasi pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat," tandas Zita.

Peristiwa kebakaran yang menghanguskan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8) melalap sekitar 120 unit bangunan serta berdampak pada 120 kepala keluarga atau kurang lebih 320 jiwa. Selain hunian, sejumlah fasilitas pendukung aktivitas ekonomi dan budaya warga turut terdampak.

Terkini