Menikmati Sensasi Kuliner Malam Jakarta Dari Ketinggian Lantai 100

Senin, 24 Agustus 2026 | 03:00:01 WIB
Sajian Ribeye, salah satu makanan andalan di AB Steak by Chef Akira Back, di Senayan City, Jakarta Pusat.

JAKARTA - Menikmati pesona Kota Jakarta pada malam hari dapat dilakukan melalui beragam aktivitas. Mengamati pemandangan deretan gedung bertingkat penuh pendar cahaya dari lantai 100 menghadirkan suasana yang unik.

Panorama dari tempat tinggi kini menjadi nilai tambah dalam pengalaman kuliner di Ibu Kota. Konsep fine dining tak cuma berfokus pada menu yang tersaji, melainkan memadukan atmosfer, lokasi, hingga impresi kenangan para tamu.

Sensasi ini ditawarkan oleh Akira Back Jakarta yang kembali beroperasi di Ibu Kota, tepatnya di lantai 100 Autograph Tower, Thamrin Nine. Restoran ini mengusung masakan Jepang kontemporer bersentuhan Korea dan Amerika, sembari menyuguhkan lanskap Jakarta.

Kapasitas tempat duduk disiapkan secara terbatas untuk 60 pengunjung, terdiri atas 52 kursi di area makan utama dan delapan kursi di ruang privat.

Pembatasan jumlah tempat duduk menciptakan suasana yang lebih privat. Saat malam tiba, gemerlap lampu kota terlihat dari jendela glass wall, membentangkan pemandangan Jakarta bagaikan hamparan cahaya.

Bergesernya tren penikmat kuliner menjadikan momen santap malam semakin variatif. Makan malam kerap dijadikan sarana perayaan ulang tahun, peringatan anniversary, momen lamaran, kumpul keluarga, maupun tempat bersantai.

Konsep ini diwujudkan lewat jargon 'Celebrate Life' yang diusung Akira Back Jakarta. Meski mengandalkan aspek tempat, mutu masakan tetap menjadi prioritas pelayanan.

Menu yang disajikan menerapkan teknik masak khas Jepang dipadu pengaruh kuliner Korea, seperti olahan sushi, sashimi, seafood, hingga sajian panggang teknik robata.

Sejumlah sajian ikonik mahakarya Chef Akira Back turut dihadirkan, contohnya AB Tuna Pizza bergaya renyah dengan sentuhan umami aioli, micro shiso, dan white truffle oil, serta Kanpachi Goma yang memadukan ikan kingfish Jepang dengan yuzu goma.

Pada sajian utama, tersedia 48 Hour Short Rib yang dimasak secara slow cook. Pilihan Wagyu & Eringii Hot Rock Ishiyaki menawarkan pengalaman interaktif karena bahan dimasak langsung di atas batu panas depan meja.

Gebrakan hidangan penutup dipresentasikan lewat Truffle Ice Cream Pizza, kreasi olahan es krim dengan aroma truffle berbalut cita rasa manis unik.

Rangkaian kuliner tersebut mencerminkan gaya memasak Chef Akira Back yang kaya variasi dan tidak kaku pada satu tradisi kuliner.

Pendekatan masakan Chef Akira Back dipengaruhi oleh rekam jejak kehidupannya. Lahir di Seoul, Korea Selatan, dan tumbuh besar di Aspen, Colorado, ia sempat mendalami profesi atlet snowboarder sebelum berkarier di dunia kuliner.

Perjalanan kulinernya meluas di Amerika Serikat. Pada 2008, ia mendirikan Yellowtail di Bellagio, Las Vegas, hingga namanya dikenal ke berbagai mancanegara.

Inspirasi tempat tinggalnya membentuk gaya memasak yang khas. Teknik pengolahan Jepang dipadukan dengan cita rasa Korea serta pengalaman karier kulinernya di Amerika Serikat.

Ibu Kota bukan arena baru bagi Chef Akira Back lantaran restoran pertamanya pernah beroperasi pada 2014. Kini, setelah jeda satu dekade, ia kembali hadir di lokasi teranyar.

"Kembali ke Jakarta, dan kali ini berada di titik tertingginya, merupakan sebuah kehormatan. Kota ini selalu memiliki tempat yang istimewa di hati saya," ujar Chef Akira Back, mengutip Detik Food.

Keberadaan restoran di lantai 100 ini menjadi bukti perkembangan tren wisata kuliner Jakarta. Bila dahulu kualitas sajian menjadi pertimbangan tunggal, kini tata ruang, pelayanan, serta pemandangan turut menjadi penentu keputusan konsumen.

Bagi pengunjung, agenda makan malam tidak sebatas urusan santap hidangan, tetapi juga ruang interaksi, perayaan momen penting, hingga kesempatan menikmati Jakarta dari sudut pandang yang berbeda.

Irawan Sukma Nugraha, Business Director Akira Back dan Chief Strategic Officer Adhya Group, menyebutkan bahwa operasional restoran ditargetkan untuk keberlanjutan jangka panjang.

"Kami hadir untuk membangun sesuatu yang berkelanjutan, bukan sekadar membuka restoran. Kami percaya penikmat kuliner di Indonesia tidak hanya mengharapkan, tetapi juga layak mendapatkan yang terbaik," ujarnya.

Lantai 100 mungkin menjadi latar lokasi dan hidangan sebagai magnet kedatangan. Namun, lanskap Jakarta serta momen kebersamaan di atas meja yang menyempurnakan ingatan para tamu.

Terkini