Waspadai Benturan Kepala Bisa Picu Perdarahan Otak dan Gejalanya

Jumat, 21 Agustus 2026 | 05:16:31 WIB
Ilustrasi Sakit Kepala Setelah Terbentur.

JAKARTA — Benturan pada area kepala kerap dianggap sebagai masalah sepele, terutama jika tidak menimbulkan luka terbuka atau keluhan fisik yang berat.

Padahal insiden cedera akibat terjatuh, kecelakaan, benturan olahraga, hingga aktivitas harian berpotensi memicu perdarahan di dalam otak.

Kondisi medis tersebut bahkan dapat berkembang secara bertahap sehingga gejalanya tidak selalu muncul seketika setelah benturan terjadi.

Dokter Spesialis Bedah Saraf Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS, menyebut tantangan penanganan benturan kepala ada pada gejalanya.

“Pada beberapa kondisi, perdarahan otak dapat berkembang secara bertahap sehingga keluhan baru dirasakan setelah beberapa waktu,” ujar Prof Satyanegara dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Oleh sebab itu benturan kepala akibat dampak mekanisme yang kuat perlu mendapatkan evaluasi medis mendalam untuk memastikan kondisi kesehatan pasien.

Berbagai tanda bahaya patut diwaspadai, seperti sakit kepala yang kian memburuk, mual dan muntah berulang, rasa mengantuk berlebih, hingga kejang.

Dokter Spesialis Saraf Mayapada Hospital Surabaya, dr. Dedy Kurniawan, Sp.N(K), FINA, menjelaskan bahwa gejala cedera kepala berbeda bergantung pada tingkat keparahannya.

“Apabila muncul perubahan kesadaran, gangguan bicara, kelemahan anggota gerak, atau keluhan yang semakin memburuk setelah benturan, pasien perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat,” jelas dr Dedy.

Guna mendeteksi kondisi di dalam kepala, tim medis akan melakukan evaluasi saraf serta pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI.

Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi titik perdarahan atau pembengkakan sehingga penanganan medis dapat disesuaikan secara tepat dengan kondisi pasien.

“Evaluasi pada pasien dengan cedera kepala tidak hanya melihat keluhan yang dirasakan saat datang, tetapi juga mempertimbangkan riwayat kejadian, kondisi neurologis, serta hasil pemeriksaan penunjang,” jelas Dokter Spesialis Saraf Mayapada Hospital Bandung, Dr. dr. Cep Juli, Sp.N(K).

Selain persoalan cedera kepala, kecepatan tindakan medis juga menjadi faktor krusial dalam menangani kondisi kegawatdaruratan lain seperti serangan stroke.

Keterlambatan penanganan stroke dapat meningkatkan risiko kerusakan permanen pada jaringan otak hingga memicu kelumpuhan atau kecacatan fisik.

Pada stroke iskemik akibat sumbatan pembuluh darah, rumah sakit menerapkan protokol door-to-needle dengan standar penanganan di bawah 60 menit.

Makin cepat terapi trombolisis diberikan kepada pasien, makin besar peluang untuk menekan risiko kecacatan dan memaksimalkan proses pemulihan.

Mendukung penanganan gangguan neurologis tersebut, Mayapada Hospital menghadirkan layanan terpadu Tahir Neuroscience Center yang didukung kolaborasi tim dokter multidisiplin.

Fasilitas ini siap menangani gangguan saraf, otak, hingga tulang belakang secara komprehensif mulai dari diagnosis awal hingga tahap neurorehabilitasi.

Terkini