Jangan Bahaya Dampak Membandingkan Bentuk Tubuh di Media Sosial

Jangan Bahaya Dampak Membandingkan Bentuk Tubuh di Media Sosial
Ilustrasi remaja bermain media sosial.

JAKARTA — Kemajuan media sosial memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengamati kehidupan maupun penampilan fisik orang lain secara bebas.

Hanya dalam hitungan detik, pengguna disuguhkan foto bentuk tubuh ideal hingga standar kecantikan yang terus bermunculan di linimasa.

Tanpa disadari, paparan visual tersebut mendorong seseorang mulai membandingkan bentuk tubuh pribadi dengan tampilan orang lain.

Apabila kebiasaan ini dibiarkan terus berjalan, dampaknya bisa memengaruhi cara seseorang dalam memandang citra tubuh serta menilai harga dirinya.

American Psychological Association (APA) mengimbau agar kebiasaan membandingkan penampilan dan bentuk tubuh di media sosial segera dibatasi.

Sejumlah riset membuktikan bahwa kecenderungan membandingkan fisik di platform digital berkorelasi dengan buruknya citra tubuh serta munculnya pola makan tidak teratur.

Media sosial dipenuhi oleh unggahan visual dari selebritas, pembawa pengaruh, hingga kreator konten kebugaran.

Namun, konten yang dipajang di linimasa tersebut belum tentu mencerminkan kondisi kehidupan nyata seseorang secara utuh.

Setiap foto umumnya telah melewati proses seleksi sudut pengambilan gambar, pengaturan pencahayaan, hingga penyuntingan sebelum diunggah.

Psikolog Mitch Prinstein, PhD, dari APA menjelaskan bahwa tindakan membandingkan diri sebenarnya merupakan fenomena alami yang sangat manusiawi.

Kendati demikian, platform digital membuat interaksi perbandingan fisik tersebut terjadi dengan frekuensi yang jauh lebih tinggi.

Prinstein menambahkan bahwa pengguna media sosial umumnya hanya menampilkan hal-hal menarik yang ingin dipamerkan ke publik.

Oleh sebab itu, konten yang terlihat di layar gawai merupakan hasil kurasi dan bukan cerminan menyeluruh dari kondisi asli.

Ketika gambaran tubuh ideal terus menerus muncul, standar tersebut secara tidak sadar dianggap sebagai bentuk kewajaran.

Kondisi ini memicu seseorang menilai tubuhnya kurang menarik hanya karena terus mengukurnya dengan unggahan di media sosial.

Dampak buruk yang kerap timbul akibat fenomena ini adalah hadirnya ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh sendiri atau body dissatisfaction.

Seseorang bakal berfokus pada area tubuh tertentu, merasa tidak menawan, hingga memaksakan perubahan fisik demi meniru figur idola.

Hal ini berkaitan dengan maraknya konten thinspo yang mengagungkan ukuran tubuh sangat kurus hingga memicu kebiasaan olahraga berlebihan.

Elizabet Altunkara, LMSW, dari National Eating Disorders Association menyebut konten thinspo memicu rasa cemas, malu, serta kecemasan terhadap bentuk tubuh.

Cynthia M. Bulik, PhD, dari University of North Carolina menegaskan thinspo menjadikan keinginan kurus sebagai dorongan utama dalam berdiet.

Menurut Bulik, konten tersebut membuat seseorang merasa selalu kurang kurus dan menganggap aktivitas olahraga sebagai beban kewajiban semata.

Ketika ukuran fisik dijadikan tolok ukur utama keberhasilan, pola hubungan seseorang dengan konsumsi makanan juga bakal mengalami pergeseran.

Rasa bersalah seusai makan, ketakutan berlebih akan kenaikan berat badan, hingga olahraga demi menebus porsi makan kerap menjadi konsekuensinya.

APA menandai bahwa perbandingan fisik di media sosial berkaitan erat dengan gejala depresi serta perilaku makan yang menyimpang.

Meskipun demikian, menikmati konten digital tidak secara otomatis menyebabkan gangguan mental karena riset yang ada masih bersifat korelasi.

Algoritma sistem platform juga turut memperparah kondisi ini dengan terus menyuguhkan rekomendasi konten serupa secara berulang.

Efeknya, pengguna merasa seolah seluruh orang sedang menjalani program diet atau memiliki standar bentuk tubuh tertentu.

Oleh karena itu, pemahaman literasi media sosial sangat diperlukan agar pengguna mampu bersikap kritis terhadap kebenaran konten digital.

Langkah awal untuk mengurangi kebiasaan ini adalah dengan mengevaluasi perasaan yang muncul seusai mengamati konten tertentu.

Apabila sebuah akun memicu rasa rendah diri, langkah terbaik adalah membatasi paparan atau langsung berhenti mengikuti akun tersebut.

Mulailah beralih mengikuti akun yang mengusung keberagaman bentuk tubuh serta tidak mengukur kesehatan hanya dari aspek penampilan luar semata.

Bulik mengimbau agar masyarakat memindahkan fokus perhatian dengan lebih menghargai fungsi dan kesehatan tubuh dalam kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index