JAKARTA - PT Sun Life Financial Indonesia mengungkapkan hambatan utama dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada sektor asuransi kesehatan tidak sekadar masalah teknis, melainkan tingkat kepercayaan nasabah.
Chief Operating Officer Sun Life Indonesia, Maria Triastuti, memaparkan bahwa para pemegang polis wajib meyakini bahwa data pribadi mereka terlindungi, mekanisme berjalan adil, serta keputusan sistem dapat dipertanggungjawabkan secara transparan.
“Karena itu, kami menerapkan AI secara bertanggung jawab, dengan tata kelola, kontrol, dan pengawasan manusia yang jelas,” ucapnya kepada Bisnis, Rabu (12/8/2026).
Maria menekankan bahwa aspek perlindungan kerahasiaan data nasabah menjadi fokus krusial perusahaan.
Selain itu, tingkat akurasi keluaran AI wajib diuji secara berkala untuk mencegah timbulnya bias maupun keputusan sistem yang tidak tepat.
Dalam setiap tahapan yang berpengaruh langsung kepada nasabah, keterlibatan personel manusia dinilai tetap memegang peranan utama guna menjaga empati, pemahaman konteks, dan penilaian profesional.
“Di sisi internal, kesiapan SDM juga menjadi perhatian. Kami mendorong karyawan untuk memahami potensi AI, menggunakan teknologi dengan bijak, dan tetap menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap keputusan,” sebutnya.
Pada dasarnya, Maria menilai keberadaan AI sangat membantu meningkatkan efisiensi kerja agar lebih terarah serta adaptif terhadap kebutuhan pemegang polis.
Dalam bisnis asuransi, berbagai keputusan bersifat sangat personal bagi konsumen, seperti penentuan proteksi kesehatan, pengajuan klaim, hingga pemahaman rincian manfaat polis.
Kehadiran AI diproyeksikan mampu menyederhanakan rangkaian proses tersebut agar lebih tanggap dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
“Dari sisi operasional, AI dan data analytics dapat membantu mempercepat proses tertentu, meningkatkan akurasi analisis, dan mendukung tim dalam mengidentifikasi pola atau anomali dengan lebih baik,” jelasnya.
Maria memberi contoh pada penanganan klaim dan manajemen risiko, di mana teknologi cerdas ini membantu memetakan tren klaim, mendeteksi potensi kecurangan (fraud), serta memperkuat efektivitas peninjauan ulang.
“Bagi nasabah, Sun Life ingin menghadirkan pengalaman yang lebih baik, proses yang tidak terasa rumit, layanan yang lebih cepat, dan pengalaman yang tetap manusiawi. Karena pada akhirnya, ketika nasabah menghubungi perusahaan asuransi, sering kali mereka sedang berada dalam situasi yang membutuhkan kejelasan, kepastian, dan empati,” tutupnya.