JAKARTA - Kontak mata menempati posisi sebagai salah satu komponen krusial dalam dunia komunikasi. Ketika sedang berinteraksi dengan orang lain, mengarahkan tatapan ke mata lawan bicara mampu merefleksikan bahwa kami memberikan perhatian serta terlibat secara aktif di dalam percakapan tersebut.
"Baik dalam lingkungan sosial maupun profesional, kontak mata dapat dianggap sebagai aspek penting karena membangun kepercayaan, hubungan baik, dan pemahaman antar individu," kata psikiater Michelle Dees, dikutip, Sabtu (15/8/2026).
Walau demikian, bagi sebagian kalangan, menjalankan kontak mata bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Perasaan malu, rasa gugup, ataupun ketidakterbiasaan menatap wajah orang lain secara langsung kerap kali memicu percakapan menjadi terasa kaku dan canggung.
Di sisi lain, tindakan memaksakan diri secara berlebihan untuk terus menerus menatap mata lawan bicara pun bukanlah pilihan yang tepat.
Gaya tatapan yang terlampau lama dan intens justru berisiko membuat pihak lawan bicara merasa tidak nyaman. Oleh sebab itu, praktik kontak mata semestinya dijalankan secara wajar dan mengalir apa adanya. Keterampilan ini sebenarnya dapat dilatih secara bertahap melalui beberapa langkah sederhana berikut.
Cara melatih kontak mata saat bicara:
Gunakan metode segitiga pada wajah Apabila menatap secara langsung ke arah bola mata dirasa terlampau intens, Anda bisa mencoba menerapkan metode segitiga. Dikutip dari Verywell Mind, salah satu alternatif trik yang patut dicoba adalah dengan membayangkan bentuk geometri segitiga pada area wajah lawan bicara, di mana kedua titik mata dan area mulut bertindak sebagai ketiga sudutnya.
Daripada memfokuskan pandangan secara kaku pada satu titik mata saja, arahkan sorot mata secara perlahan dari satu mata berpindah ke mata satunya, lalu turun sejenak ke area sekitar mulut.
"Alihkan pandangan Anda di antara titik-titik ini untuk mempertahankan kontak mata alami," saran psikoterapis Megan Drummond, BBA.
Penerapan metode ini diyakini mampu membuat gestur tatapan terasa jauh lebih natural sekaligus membantu meredakan tekanan psikologis untuk terus memelototi mata orang lain secara langsung.
Jangan memaksakan kontak mata terus-menerus Menjalankan kontak mata yang baik sama sekali tidak menuntut seseorang untuk terus menatap lawan bicara tanpa ada jeda sedetik pun. Di dalam alur percakapan yang normal dan natural, seseorang umumnya akan secara berkala mengalihkan pandangannya, misalnya ketika sedang berpikir atau merangkkai kata-kata yang tepat.
Jeda alami semacam ini merupakan bagian yang sangat lumrah di dalam dinamika komunikasi. Sebaliknya, tindakan menatap tanpa henti justru berpotensi membuat lawan bicara merasa risih seolah sedang diamati secara berlebihan.
Oleh karena itu, jika telanjur merasa canggung, Anda sama sekali tidak perlu memaksakan diri untuk terus-menerus menatap. Lakukanlah kontak mata secara berkala, alihkan pandangan sejenak, lalu kembalikan fokus menatap lawan bicara.
Latih kontak mata secara bertahap Bagi individu yang belum terbiasa, upaya langsung mempertahankan kontak mata di tengah durasi percakapan yang panjang tentu bisa mendatangkan kesulitan tersendiri.
Oleh karena itu, latihan sebaiknya dimulai secara bertahap. Awali kebiasaan ini dengan mempertahankan kontak mata selama beberapa detik saja saat sedang mengobrol bersama orang-orang yang sudah membuat Anda merasa nyaman, seperti kerabat keluarga atau sahabat dekat.
Begitu Anda mulai merasa terbiasa, tahapan latihan bisa ditingkatkan ke dalam situasi sosial yang lebih menantang, contohnya saat mengobrol dengan orang yang baru pertama kali dikenal. Tujuan utama dari latihan ini bukanlah menjadikan seseorang mampu menatap tanpa berkedip, melainkan membiasakan diri agar kontak mata menjelma sebagai bagian yang natural dari jalannya percakapan.
Gunakan bahasa tubuh sebagai pendukung Aktivitas kontak mata tidak berdiri sendirian sebagai instrumen komunikasi. Agar proses penyampaian pesan terasa jauh lebih organik, padukan sorot mata Anda dengan ragam bahasa tubuh penunjang lainnya. Sebagai ilustrasi, sesekali lakukan gerakan mengangguk ketika lawan bicara sedang memberikan penjelasan, tebarkan senyuman pada momen yang relevan, atau condongkan sedikit posisi tubuh ke arah orang yang sedang berbicara.
Berbagai ragam bahasa tubuh tersebut secara efektif menunjukkan bahwa kami benar-benar memperhatikan percakapan. Dengan demikian, bentuk perhatian tidak semata-mata disampaikan melalui tatapan mata saja.
Sesuaikan dengan situasi dan lawan bicara Tidak ada satu pun aturan baku mengenai kontak mata yang berlaku secara seragam untuk semua orang di berbagai macam situasi. Norma interaksi pandangan mata ini bisa sangat bervariasi bergantung pada latar belakang budaya, tingkat kedekatan hubungan dengan lawan bicara, serta konteks pembicaraan yang sedang berlangsung. Bentuk tatapan yang dianggap wajar di suatu situasi tertentu belum tentu terasa nyaman jika diterapkan pada situasi yang lain.
Oleh sebab itu, selalu cermati respons yang ditunjukkan oleh lawan bicara Anda. Apabila mereka mulai menunjukkan gelagat ketidaknyamanan, tindakan mengalihkan pandangan sejenak akan sangat membantu mencairkan suasana sehingga percakapan terasa jauh lebih santai. Hal serupa juga berlaku tatkala Anda berbicara di dalam format kelompok.
Hindari kebiasaan hanya memusatkan kontak mata kepada satu orang saja, melainkan arahkan pula pandangan secara bergantian ke peserta diskusi lainnya agar semua orang merasa dilibatkan secara adil.