PORTALENERGI.ID — Gelaran World Humanoid Robot Games (WHRG) 2025 yang berlangsung di Beijing sejak Sabtu (23/8) mencatat sejarah baru di dunia robotika. Robot humanoid bernama Tiangong Ultra, yang dikembangkan oleh Beijing Humanoid Robot Innovation Center, berhasil memecahkan rekor lari 100 meter dengan torehan waktu 9,39 detik pada babak penyisihan. Waktu tersebut lebih cepat 0,19 detik dari rekor dunia manusia yang dipegang atlet Jamaika, Usain Bolt, sejak 2009, yakni 9,58 detik.
Di balik catatan impresif tersebut, Tiangong Ultra harus mengalahkan pesaing terdekatnya, robot Lightning milik Honor, yang menuntaskan sprint dalam 9,47 detik. Namun, performa robot-robot ini masih jauh dari kata sempurna. Setelah melewati garis finis, sejumlah robot langsung menabrak bantalan pengaman dan membutuhkan bantuan teknisi untuk dievakuasi dari lintasan.
Rekor yang Terus Melesat
Capaian Tiangong Ultra pada ajang tahun ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan edisi perdana WHRG tahun lalu. Pada 2024, robot yang sama memenangkan nomor 100 meter dengan waktu 21,5 detik. Lonjakan performa ini menunjukkan percepatan riset dan pengembangan teknologi robot humanoid di China dalam waktu singkat.
Selain nomor lari, WHRG 2025 yang berlangsung hingga 26 Agustus ini juga mempertandingkan ribuan robot dalam berbagai cabang olahraga lain, seperti sepak bola, tenis meja, dan tinju.
Bukan Sekadar Lari: Maraton juga Jadi Ajang Uji
Menariknya, ajang unjuk kebolehan robot humanoid di Beijing tidak hanya berhenti di lintasan 100 meter. Sebelum WHRG digelar, kota tersebut juga menjadi tuan rumah half-marathon khusus robot yang diikuti oleh berbagai perusahaan teknologi China. Dalam ajang tersebut, robot Lightning dari Honor berhasil meraih medali emas dengan catatan waktu 50 menit 26 detik.
Waktu tersebut juga disebut melampaui rekor manusia untuk jarak setengah maraton. Namun, seperti halnya di nomor sprint, ajang lari jarak jauh ini juga diwarnai sejumlah insiden jatuh yang melibatkan para peserta robot.
Masih Jauh dari Komersialisasi
Meskipun catatan waktu yang dihasilkan mengesankan, perlu ditegaskan bahwa teknologi ini belum siap digunakan untuk tujuan komersial. Momen setelah sprint menjadi bukti nyata keterbatasan robot-robot tersebut. Banyak di antara mereka yang gagal mengerem dengan baik dan langsung menghantam bantalan di ujung lintasan, sehingga membutuhkan bantuan manusia untuk dipindahkan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa pengembangan robot humanoid di China masih berada pada tahap riset dan eksperimen untuk menguji kemampuan dasar fisik. Keandalan dan keselamatan dalam kondisi dunia nyata masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pengembang sebelum teknologi ini bisa dimanfaatkan secara luas.